Cerpen Bully Berujung Tragis

 

Jantungku berdetak, namun tatapan pelaku tampak tenang. Di balik ketenangan itu terdapat tatapan yang tajam. Ia menatapku seolah-olah aku ini adalah manusia yang paling buruk tercipta seperti manusia yang lainnya. Elsa terkenal sebagai anak yang paling pintar, rajin, aktif juga dalam segala kegiatan. Kehidupan Elsa bisa dikatakan tergolong sederhana. Diantara teman-temannya sebagai anak berada, Elsalah yang terpandang sebagai sosok yang sederhana dan tidak memaksakan keadaan untuk bergaya. Ana, salah satu teman dekatnya adalah anak yang popular di sekolah karena kecantikkannya. Hal itu menjadikan Elsa sering bercermin. “Apakah aku seburuk itu untuk dipandang?” Pertanyaan itu yang selalu mencul di pikirannya.

Terdengar langkah kaki kecil dari belakang Elsa. “Plak!” tangan kecil menepuk pundaknya. Elsa terkejut dan menoleh ke belakang, dan ternyata itu Ana. “Ana, kamu ini mengagetkanku. Serasa jantung ini mau copot saja.” ujar Elsa.

“Maaf El, kamu lucu kalau terkejut. Lagian kamu ngapain ke kamar mandi sendirian? Biasanya ngajak aku kan?”, tanya Ana dengan ekspresi kesal.

Dalam hatinya, Elsa berbicara, “Ana, gadis cantik yang selama ini dijadikan perbandingan dengan saya.”

Ana kembali menepuk Elsa yang tampak bengong. “Ada apa Elsa, aku di sisimu. Ceritakan padaku apa keluhanmu. Aku akan selalu menjadi teman dan pendengar setia ceritamu.”

Elsa menangis di pelukan Ana. Badan Elsa dingin. Ana kebingungan karena tiba-tiba Elsa menangis.

“Ana, mengapa orang-orang selalu memandang mana yang sempurna dan manda yang buruk. Mengapa dunia berpihak kepda yang sempurna. Lalu, orang sepertiku, kapan mendapatkan kebahagiaan?”, ujar Elsa dengan suara yang sangat kencang.

Sepertinya suara itu tidak jelas di telinga Ana. Ana bingung  karena ia tak tahu apa yang sedang terjadi pada Elsa. “Mengapa kau bicara begitu. Apa yang terjadi padamu?”

Elsa berhenti menangis. “Apakah kamu juga seperti mereka? Yang hanya baik kepadaku di depanku saja. Namun, kamu juga ikut-ikutan dengan mereka  yang selalu membanding-bandingkan, mengolok-olok, dan menjadikan aku sebagai bahan tertawaan saja?”

“Kau ini apa-apaan sih. Bukanya senang berteman denganku, malah memfitnahku dengan pertanyaan yang tidak sesuai kenyataan. Dasar!” Tiba-tiba kata-kata itu muncul dari mulut Ana. Sepertinya Ana kecewa atas prasangka Elsa.

Karena kerasnya suara itu, anak-anak lain berdatangan. “Ada apa ini, kok keras sekali suaramu Ana?”, Tanya Angel.

“Lihat itu, Si jelek memfitnah aku sebagai orang yang munafik. Aku dianggap mau berteman hanya karena untuk memanfaatkan dia. Padahal niatku baik”, saut Ana dengan ekspresi yang sedih.

“Dasar tidak tahu malu. Bukannya berterima kasih malah memfitnah orang sembarangan”, saut Angel.

“Huuuu… dasaaar”, saut anak-anak lainnya.

Seketika Elsa hancur. Tatapannya kosong. Tubuhnya sempoyongan. Rasanya ingin berlari sangat jauuuh sekali.

Sore hari terdengar kabar di berbagai media bahwa ada seorang gadis jatuh dari sekolah. Diduga ia jatuh dari lantai 3 sekolahnnya

karya: Vyolin Ineztian Anwar

CERPEN INSPIRASI "IMPIAN DAN PERJUANGAN"

IMPIAN DAN PERJUANGAN

Nabilla Faizah A (XI MIPA 1)

Kata Ayahku, suatu kemustahilan jika aku melanjutkan pendidikan ku ke jenjang yang lebih tinggi setelah aku lulus sekolah menengah atas, apalagi dengan mimpi yang aku miliki cukup tinggi dan kondisi ekonomi keluargaku yang pas-pasan.

"Kamu mau jadi pelukis Nebula? Seharusnya kamu cukup menyadari dengan kondisi ekonomi keluarga kita yang pas-pasan kamu tidak mungkin bisa menjadi pelukis, kuliah di jurusan yang berhubungan dengan seni saja Ayah ragu." kata Ayah kepadaku.


"Kamu anak cerdas Nebula, kemungkinan besar kamu bisa mendapatkan beasiswa di kota. Tapi kamu mau tinggal dimana? Terus biaya makan sehari hari pasti juga mahal kan?" timpal Bunda seraya mengelus pucuk kepala ku.

Aku tidak menyangka dan sedikit merasa kecewa pada Ayah dan Bunda. Aku mengira ketika aku menyampaikan tentang mimpiku pada keduanya, kalimat dukungan untukku supaya terus menggapai semua mimpiku adalah hal yang akan ku dengar. Namun kenyataannya, Ayah dan Bunda tidak mendukung itu sama sekali.

Namaku Nebula, anak kedua dari dua bersaudara. Aku memiliki kakak laki laki yang sedang berkuliah di luar kota yang mengambil jurusan manejemen bisnis. Aku terheran, kakakku didukung untuk kuliah lalu, mengapa aku tidak?

"Kamu perempuan Nebula, tidak usah menempuh pendidikan tinggi tinggi kalau nanti ujung ujungnya kamu berakhir di dapur dan mengurus anak. Kamu saja tidak pernah kan pergi jauh dari Ayah sama Bunda? Mendingan kamu di rumah saja." nasehat Ayah kepadaku dan Bunda menganggukkan kepalanya tanda menyetujui Ayahku.

"Lalu? Mengapa jika Bula ini perempuan? Apakah tidak boleh memiliki pendidikan yang tinggi juga? Semua orang kan diberi kebebasan untuk mencapai cita citanya yang selalu dimimpikan. Bula juga ingin melanjutkan sekolah, Ayah dan Bunda saja mendukung kakak mengapa Bula tidak didukung?" jawabku.

"Itu sudah hal lain Bula, kakak kamu laki laki sedangkan kamu perempuan. Pokoknya kamu harus nurut sama kata Ayah dan Bunda, jangan ngelawan." kata Ayah dengan nada tinggi, Ibuku hanya bisa geleng geleng kepala melihatku yang tidak biasanya menjawab ketika dinasehati.

Ada saja stigma masyarakat yang memandang  perempuan tidak boleh berpendidikan terlalu tinggi. Seharusnya saat ini ruang gerak perempuan sudah setara, lebih bebas, terbuka lebar, dan bebas meraih pendidikan seperti laki laki. Apalagi dengan perjuangan sosok pahlawan emansipasi wanita Indonesia yang tak lain adalah R.A Kartini.

Memang kewajiban anak mengikuti kemauan orangtuanya, tapi untuk kali ini saja aku ingin melanjutkan pendidikan dan meraih impianku. Aku memiliki impian dan tujuanku sendiri dan aku ingin membahagiakan Ayah dan Bunda dengan jalan yang aku pilih.

Aku sekarang duduk di bangku kelas 12, diwaktu inilah aku benar benar harus tekun dan rajin dalam belajar, agar aku bisa mendapatkan beasiswa untuk kuliah di jurusan impian ku nanti. Aku menjadi lebih sibuk karena aku terpilih sebagai siswi yang mewakili lomba lukis, aku harus meningkatkan kemampuanku dan berusaha untuk mendapatkan yang terbaik.

"Ayah, Bunda aku akan mengikuti lomba lukis." ucapku dengan raut wajah berseri seri.

"Buat apa sih kamu ikut ikut lomba seperti itu? Mendingan kamu fokus belajar saja kalau bisa ikut lomba akademik." ujar Ayah ketus

"Tidak bisa Ayah, aku sudah ikut seleksi di jauh hari, dan aku harus bertanggung jawab karena terpilih." jawabku kepada Ayah

"Terserah kamu Bula, sejak kamu ikut komunitas lukis itu, kamu jadi anak yang keras kepala." ucap Ayah sambil berlalu meninggalkanku sendiri di ruang tamu.

Aku hanya terdiam memikirkan kata kata Ayah. Salahkah kalau aku melakukan apa yang aku suka dan mimpikan? Aku hanya menginginkan dukungan dari Ayah dan Bunda. Berat rasanya, memperjuangkan impian tanpa dukungan dari Ayah dan Bunda. Tapi tidak apa apa, aku akan berusaha membuktikan kepada Ayah dan Bunda kalau aku pasti bisa. Masih ada kakakku dan teman teman yang selalu mendukungku, dan aku tidak boleh mengecewakan mereka.

Setelah beberapa hari menunggu pengumuman, pada hari Minggu pagi aku membaca hasil pemenang yang di unggah pada akun Instagram yang menyediakan lomba lukis. Aku terpaku sejenak, namaku tertulis disitu. Mataku mulai terasa memanas dan tanpa kendaliku aku menangis. Terlampau terkejut karena aku memang tidak terlalu berharap banyak pada lomba ini.

"Bula selamat, kamu menang juara 1. Luar biasa sekali adik kakak ini, kamu sudah melakukan yang terbaik Bula." ucap kakakku yang tampak tergesa membuka pintu kamar ku lalu menghampiriku.

"Kakak, aku tidak menyangka." kataku menahan nafas, merasa sesak karena mendengar ucapan kakakku.

"Kamu hebat Bula, kakak bangga sekali dengan adik kakak yang satu ini. Kamu benar benar sudah berkerja keras Bula. Apapun impian kamu, kakak disini bakal selalu mendukung kamu. Jangan terlalu khawatir masalah Ayah dan Bunda, kakak akan mencoba bicarakan.” kakak mengusap air mataku lalu memelukku erat dan mengelus punggung ku pelan.

Keyakinan ku untuk berkuliah dan meraih impian ku bertambah kali ini, aku ingin menjadi seorang pelukis. Aku akan membanggakan Ayah dan Bunda melalui jalan yang aku pilih. Setiap hari aku tak berhenti berdoa, semoga akan ada hari dimana Ayah dan Bunda akan mendukung impianku, dan aku akan terus menunggu dimana hari seperti itu terjadi.

Tak terasa pendaftaran ke perguruan tinggi semakin dekat. Setiap siswa sudah harus memikirkan akan kemana tujuan mereka dan mempersiapkan segala hal untuk kedepannya.

Aku sibuk mencari universitas yang menyediakan beasiswa untuk diriku berkuliah dan sebagai penunjang mimpi ku menjadi seorang pelukis.

Dan akhirnya berkat perjuanganku, kini aku berkuliah di salah satu universitas terbaik di kotaku. Tentunya di jurusan seni rupa dengan beasiswa yang aku dapatkan. Karena seluruh kerja keras dan usahaku, aku berhasil meraih salah satu impianku untuk berkuliah meski ada perdebatan panjang yang terjadi antara aku dan orangtuaku, ada kakak yang membantuku untuk membujuk Ayah dan Bunda. Walaupun keduanya meragukan ku dan dengan berat hati menyetujui hal itu. Tapi, aku akan terus berusaha dan berkerja lebih keras lagi, untuk membuktikan dan meyakinkan kepada Ayah dan Bunda dan aku tidak akan mengecewakan orang orang yang telah mendukung dan mempercayai ku.

TENTANG GRHA WISTARA

Perpustakaan  Grha Wistara  merupakan perpustakaan sekolah yang dimiliki SMA Negeri 1 Wirosari. Perpustakaan  SMA Negeri 1 Wirosari berdiri ...