Jantungku berdetak, namun tatapan pelaku tampak
tenang. Di balik ketenangan itu terdapat tatapan yang tajam. Ia menatapku
seolah-olah aku ini adalah manusia yang paling buruk tercipta seperti manusia
yang lainnya. Elsa terkenal sebagai anak yang paling pintar, rajin, aktif juga
dalam segala kegiatan. Kehidupan Elsa bisa dikatakan tergolong sederhana.
Diantara teman-temannya sebagai anak berada, Elsalah yang terpandang sebagai
sosok yang sederhana dan tidak memaksakan keadaan untuk bergaya. Ana, salah
satu teman dekatnya adalah anak yang popular di sekolah karena kecantikkannya.
Hal itu menjadikan Elsa sering bercermin. “Apakah aku seburuk itu untuk
dipandang?” Pertanyaan itu yang selalu mencul di pikirannya.
Terdengar langkah kaki kecil dari belakang Elsa. “Plak!”
tangan kecil menepuk pundaknya. Elsa terkejut dan menoleh ke belakang, dan
ternyata itu Ana. “Ana, kamu ini mengagetkanku. Serasa jantung ini mau copot
saja.” ujar Elsa.
“Maaf El, kamu lucu kalau terkejut. Lagian kamu
ngapain ke kamar mandi sendirian? Biasanya ngajak aku kan?”, tanya Ana dengan
ekspresi kesal.
Dalam hatinya, Elsa berbicara, “Ana, gadis cantik yang
selama ini dijadikan perbandingan dengan saya.”
Ana kembali menepuk Elsa yang tampak bengong. “Ada apa
Elsa, aku di sisimu. Ceritakan padaku apa keluhanmu. Aku akan selalu menjadi
teman dan pendengar setia ceritamu.”
Elsa menangis di pelukan Ana. Badan Elsa dingin. Ana
kebingungan karena tiba-tiba Elsa menangis.
“Ana, mengapa orang-orang selalu memandang mana yang
sempurna dan manda yang buruk. Mengapa dunia berpihak kepda yang sempurna.
Lalu, orang sepertiku, kapan mendapatkan kebahagiaan?”, ujar Elsa dengan suara
yang sangat kencang.
Sepertinya suara itu tidak jelas di telinga Ana. Ana
bingung karena ia tak tahu apa yang
sedang terjadi pada Elsa. “Mengapa kau bicara begitu. Apa yang terjadi padamu?”
Elsa berhenti menangis. “Apakah kamu juga seperti
mereka? Yang hanya baik kepadaku di depanku saja. Namun, kamu juga ikut-ikutan
dengan mereka yang selalu
membanding-bandingkan, mengolok-olok, dan menjadikan aku sebagai bahan
tertawaan saja?”
“Kau ini apa-apaan sih. Bukanya senang berteman
denganku, malah memfitnahku dengan pertanyaan yang tidak sesuai kenyataan.
Dasar!” Tiba-tiba kata-kata itu muncul dari mulut Ana. Sepertinya Ana kecewa
atas prasangka Elsa.
Karena kerasnya suara itu, anak-anak lain berdatangan.
“Ada apa ini, kok keras sekali suaramu Ana?”, Tanya Angel.
“Lihat itu, Si jelek memfitnah aku sebagai orang yang
munafik. Aku dianggap mau berteman hanya karena untuk memanfaatkan dia. Padahal
niatku baik”, saut Ana dengan ekspresi yang sedih.
“Dasar tidak tahu malu. Bukannya berterima kasih malah
memfitnah orang sembarangan”, saut Angel.
“Huuuu… dasaaar”, saut anak-anak lainnya.
Seketika Elsa hancur. Tatapannya kosong. Tubuhnya
sempoyongan. Rasanya ingin berlari sangat jauuuh sekali.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar